Kamis, 28 Januari 2010

Wayang Klitik Seri Damarwulan

Damarwulan Jumeneng Nata

Sementara itu Damarwulan dengan kudanya yang dikawal kedua pamannya yang juga berkuda melaju dengan kencangnya. Mereka sudah menempuh dua hari dua malam perjalanan, Sementara itu  kuda mereka melesat bagaikan anak panah lepas dari busurnya. Mereka merasa dalam keadaan kelelahan dan mengantuk karena belum pernah istirahat selama dalam perjalanan, semua itu untuk menyelamatkan bawaannya berupa kepala Menakjingga sampai kehadapan Ratu Ayu Kencana Wungu.Tiba tiba saja terdengar suara pohon besar terpotong dari pangkalnya, dan jatuh menghunjam ketanah. Tanah sekitar pohon jatuh itu bergetar menakutkan.Sebuah pohon besar jatuh melintang ditengah jalan. Kuda mereka menjadi binal, ketakutan. Damarwulan dan kedua pamongnya terjatuh dari kuda. Baru saja mereka bisa berdiri, mereka mendapat pukulan dari 2 orang bertopeng.  Mereka jatuh tidak berdaya, mungkin saja mereka bertiga sudah tewas dibunuh. Kedua orang misterius itu menyeret Damarwulan dan kedua pamongnya kedalam hutan. Sampai mereka di sebuah sumur beracun, mereka mengangkat Damarwulan, Noyogenggong dan Sabdopalon satu persatu dan dimasukkan kedalam  sumur beracun. Kedua orang yang tak lain adalah Layang Seta dan Layang Kumitir tertawa terbahak bahak, sambil mengangkat bungkusan kepala Menakjingga. Sedangkan ketiga kuda mereka yang sedang makan rumput, dicambuknya, sehingga ketiga kuda lari terbirit birit. Karena ketiga ekor kuda itu, kuda pilhan, dan sudah “njilmo”pada Damarwulan  serta kepada kedua paman Damarwulan, kuda kuda itu berusaha pulang ke kepatihan.Kini Layang Seta dan Layang Kumitir, pulang kembali ke Majapahit, dengan membawa Kepala Majapahit. Mereka berdua pulang dengan gagahnya. Sementara itu di Kepatihan Majapahit, Terdengar suara derapan kuda, yang menjadikan kaget para penghuni rumah kepatihan, terutama Dewi Anjasmara dan Emban Palipurati. Melihat ketiga kuda pulang tanpa membawa tuannya, hati Anjasmara menjadi was was, Tanpa pikr panjang lagi Anjasmara menangkap kuda Damarwulan, dan  membawanya kembali ke arah Blambangan. Anjasmara berusaha mencari keberadaan Damarwulan. Sementara itu Layang Seta dan Layang Kumitir telah mendekati Kutaraja Majapahit. Beberapa penjaga perbatasan mengetahui kedatangan kedua anak patih Logender, dan dipersilakan memasuki wilayah Kutaraja Majapahit. Penjaga perbatasan merasa heran, barus saja mereka mendapat berita dari perajurit telik sandi, bahwa Damarwulan telah mengalahkan Menakjingga, mengapa sekarang yang datang membawa bungkusan berdarah itu mereka. Padahal mereka  juga telah meneruskan berita kemenangan Damarwulan kepada Sri Ratu. Mereka ketakutan Jangan jangan nanti pengawal perbatasan yang menyampaikan berita kemenangan Damarwulan, kepalanya bisa saja dipenggal. Sri Ratu telah menerima kedatangan Layang Seta dan Layang Kumitir. Sri Ratu Kencana Wungu menjadi gusar dan ragu atas keterangan yang diberikan kedua Layang itu, karena sebelumnya Sri Ratu sudah menerima  berita kemenangan Damarwulan. Sedangkan Layang Seta merasa berhak menjadi raja di Majapahit dan memperistri Sri Ratu Kencana Wungu. Sri Ratu Ayu menenangkan pikirannya. Didalam hatinya, terbetik bahwa kedua anak Patih Logender tidak jujur, ada rekayasa yang membuat Damarwulan sampai sekarang belum bisa hadir. Kemudian Sri Ratu memutuskan, bahwa ia tidak bisa memutuskan sekarang. Sri Ratu masih menunggu berita dari Blambangan. Sementara itu, Damarwulan dan kedua pamannya yang sekarang berada didalam sumur pass, ternyata masih mendapat perlindungan Dewata. Tidak satupun orang mengira kalau  didalam sumur pass ada sebuah kerajaan jin. Raja Jin Sumur pass memiliki seorang anak gadis yang cantik bagaikan bidadari. Didalam ceritanya, Damarwulan dan kedua pamannya yang tewas mendapat pertolongan sehingga mereka hidup lagi. Damarwulan diperkenalkan dengan puterinya. Damarwulan tertarik hatinya kepada puteri raja sumur pass. Setelah beberapa waktu berada dikerajaan sumur pass, Damarwulan dan puteri Raja Jin Sumur Pass saling jatuh cinta dan akhirnya menjadi pasangan pengantin yang sangat berbahagia. Setelah selesai perhelatan, Raja Jin Sumur pass bermaksud membantu menguraikan keruwetan yang dialami Damarwulan. Damarwulan menceritakan dengan teliti peristiwa peristiwa yang dialaminya. Mendengar cerita Damarwulan, Raja Jin Sumur Pass ganti menceritakan hasil penerawangannya peristiwa yang sedang berjalan. Diceritakan bahwa yang menghantam Damarwulan dan kedua pamannya adalah Layang Seta dan Layang Kumitir. Sekarang mereka sudah di Mjapahit, dengan membawa Kepala Menakjingga. Mereka bersikukuh, bahwa mereka yang telah membunuh Menakjingga, karena Damarwulan telah tewas di tangan Menakjingga. Namun kelihatannya Sri Ratu belum yakin atas pengakuan kedua anak Patih Logender.  Sedangkan kuda kuda Damarwulan dan kedua kuda milik pamannya, telah dihajar oleh Layang Seta dan Layang Kumitir, sehingga lari tunggang langgang pulang ke Kepatihan. Sedangkan Dewi Anjasmara melihat ketiga kudanya pulang tanpa membawa tuannya, Dewi Anjasmara mencemaskan keberadaan Damarwulan dan kedua pamannya.  Dewi Anjasmara sekarang, mengambil satu ekor diantaranya dan dipacu kudanya  menuju arah Blambangan mencari keberadaan Damarwulan. Damarwulan terharu dan meneteskan air mata. Raja Sumur Pass meminta Damarwulan dan kedua pamannya kembali ke Blambangan, untuk mencari bukti tentang keberhasilan Damarwulan mengalahkan Menakjingga, sebagai pengganti kepala Menakjingga yang di begal Layang Seta dan Layang Kumitir. Kini Damarwulan disuruh bersiap siap meninggalkan sumur pass. Ketiganya disuruh untuk memejamkan mata, dan menahan nafas, karena mereka akan melewati jalan sumur pass yang beracun. Dalam hitungan detik, mereka telah sampai di Istana Blambangan. Sesampai di Istana Blambangan, Damarwulan menemui Dewi Wahita dan Dewi Puyengan.  Dewi Wahita dan Dewi Puyengan serta kedua Patihnya, Patih Kotbuto dan Patih Angkatbuto Kehadiran Damarwulan kembali ke Blambangan, membuat  terkejut penghuni Kadipaten Blambangan. Meskipun demikian mereka telah siap melaksanakan perintah Damarwulan. Damarwulan menceritakan pengalamannya, yaitu waktu membawa kepala Menakjingga ke Majapahit, ditengah perjalanan dibegal oleh Layang Seta dan Layang Kumitir, sehingga Damarwulan tidak ada bukti kalau Damarwulan yang mengalahkan Menakjingga, karena kepala Menakjingga telah dibawa oleh Layang Seta dan Layang Kumitir. Damarwulan meminta mereka menjadi saksi dihadapan Sri Ratu Ayu Kencana Wungu. Mereka besedia membantu Damarwulan, untuk bersaksi dihadapan Sri Ratu Ayu Kencna Wungu.  Dewi Wahita dan Dewi Puyengan naik kereta kecana Kadipaten Blambangan, dan tidak lupa membawa pusaka Gada Wesi Kuning dan pedang Sengkayana. .Sedangkan Patih Kotbuto dan Patih Angkatbuto, mengawal Kereta Kencana  dengan berkuda. Dengan posisi disebelah kanan dan kiri Kereta. Posisi Damarwulan berada di depan sebagai penunjuk jalan,  Sedangkan kedua Pamannya mengawal dari belakang kereta.  Damarwulan menghentikan rombongannya ketika melihat ada seseorang perempuan berkuda dengan cepatnya. Damarwulan menghentikan perjalanan wanita itu. Ternyata ia Anjasmara. Anjasmara segera mendekatkan kudanya kekuda Damarwulan. Anjasmara sangat senang bisa bertemu lagi dengan Damarwulan. Damarwulan mengajak Anjasmara kembali bersama ke Majapahit. Akhirnya mereka berkuda bersama kembali ke Majapahit. Semakin mendekati kutaraja Majapahit, Damarwulan semakin meningkatkan kewaspadaan, Betul juga perkiraan Damarwulan, belasan perajurit bersenjata panah, menyerang rombongan dari berbagai arah.  Dengan mata batinnya.Damarwulan segera meminta bantuan Raja Sumur Pass untuk menjaga dan keselamatan mereka. Tiba tiba saja kereta kencana dan kuda kuda beserta penumpangnya kasap mata dan tidak terlihat sama sekali oleh Perajurit Kepatihan. Rombongan Damarwulan dari Blambanganpun sampai di Istana Majapahit. Sri Ratu Kencana Wungu menjadi terperanjat ketika melihat Damarwulan masih hidup. Damarwulan dan rombongan dari Blambangan segera menghadap Sri Ratu Kencana Wungu. Damarwulan menceritakan kejadian yang dialami selama mengemban tugas dari Sri Ratu. Namun pihak Layang Seta dan Layang Kumitir menolak laporan Damarwulan yang isinya hanya fitnah dan penuh rekayasa belaka. Layang Seta meyakinkan, bahwa kepala Menakjingga yang dibawanya itu adalah mutlak yang harus dianggap satu satunya bukti. Layang Seta menghendaki agar Sri Ratu mengangkat dirinya menjadi Raja Majapahit, dan setelah itu akan menghukum mati Damarwulan. Akhirnya Sri Ratu menutuskan, bahwa untuk keadilan dan kebenarannya, maka pihak Damarwulan dan Layang Seta - Layang Kumitir akan di adu pertarungan dalam blabar kawat. Siapa saja yang memenangkan pertarungan itu akan diangkat menjadi raja, sedangkan yang kalah harus meninggalkan wilayah Majapahit. Sri Ratu Ayu Kencana Wungu memerintahkan Patih Menak Koncar untuk menyiapkan tempat pertarungan mereka. Pertarungan segera dimulai, Damarwulan dikeroyok oleh kedua sepupunya sendiri, Layang Seta dan Kumitir.Dalam waktu tidak lama kedua anak Patih Logender itupun kalah dan tidak bisa berdiri lagi. Dengan kekalahan Layang Seta dan Layang Kumitir, maka sebagai hukumannya, mereka bersama ayahnya Patih Logender harus meninggalkan Wilayah Majapahit, dan Damarwulan diangkat menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu Bre Wijaya
Ratu Ayu dan Damarwulan menjadi sepasang pengantin. Sri Ratu Ayu diangkat menjadi permaisuri Prabu Bre Wijaya. Sedangkan Dewi Anjasmara, Dewi Wahita dan Puyengan serta Puteri Sumur Pass menjadi garwa selir. Mereka hidup bahagia, walaupun nantinya akan mengalami kegoncangan diantara mereka, akibat hasutan Patih Logender walaupun sudah tinggal jauh dari luar Wilayah Majapahit,***  

SELESAI

SERI DAMARWULAN

1. Damarwulan Ngarit
2. Duta Sang Ratu
3. Joko Umbaran
4. Menakjingga lena
5..Damarwulan Jumeneng Nata



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar